Minggu, 09 November 2014

Oleh: Kelompok 1
Transformasi Pertanian dan Pembangunan Daerah Pedesaan
I.                   Arti Penting Kemajuan Sektor Pertanian dan Pembangunan Daerah Pedesaan
Suatu strategi pembangunan ekonomi yang dilandaskan pada prioritas pertanian dan ketenagakerjaan paling tidak memerlukan tiga unsur pelengkap dasar, yakni 1.Percepatan pertumbuhan output melalui serangkaian penyesuaian teknologi, institusional, dan insentif harga yang khusus dirancang untuk meningkatkan produktifitas para petani kecil; 2. Peningkatan permintaan domestic terhadap output pertanian yang dihasilkan dari strategi pembangunan perkotaan yang berorientasikan pada upaya pembinaan ketenagakerjaan serta 3. Diversifikasi kegiatan pembangunan daerah pedesaan yang bersifat padat karya.

Tanpa pembangunan daerah pedesaan yang integrative, pertumbuhan industry tidak akan berjalan dengan lancar dan pada gilirannya, segenap ketimpangan tersebut akan memperparah masalah masalah kemiskinan ketimpangan pendapatan serta pengangguran.
          II.                  Pertumbuhan Sektor Pertanian : Masa Lalu dan Tantangan Masa Kini
Organisasi Pangan Sedunia yang bernaung PBB berulang kali telah memperingatkan akan adanya bencana kekurangan pangan yang gawat. Penyebab utama dari semakin memburuknya kinerja pertanian di negara negara dunia ketiga adalah terabaikannya sector yang sangat penting ini dalam perumusan prioritas pembangunan oleh pemerintah negara negara berkembang itu sendiri.
Langkah pertama yang harus ditempuh dalam rangka lebih memahami hal hal yang dibutuhkan guna menyukseskan pembangunan pertanian dan pedesaan adalah upaya pemahaman secara komperhensif atas hakikat atau sifat dasar system pertanian di berbagai wilayah negara negara dunia ketiga yang sangat beragam itu, khususnya mengenai aspek aspek ekonomi yang tergantung dalam proses transisi dari pola pertanian subsisten menjadi pola pertanian komersial.
             III.            Struktur Sistem Agraria di Negara Berkembang
·         Tiga Sistem Pertanian
            Langkah pertama untuk memahami apa yang dibutuhkan untuk memajukan pertumbuhan dan mendorong pembangunan di pedesaan adalah memahami permasalahan dari sistem agraria di beragam negara berkembang dan aspek ekonomi yang mendasari pergeseran pola dari pertanian subsisten, yakni hasil pertanian hanya untuk memenuhi kebutuhannya sendiri, ke pertanian komersial. Pada tahun 2008, ahli ekonomi pertanian dari Bank Dunia bernama Alain de Janvry beserta rekannya membuat Laporan Pembangunan Dunia yang salah satu bagiannya menyatakan bahwa disamping majunya sistem agraria di negara berkembang, terdapat tiga situasi berbeda di balik hal tersebut.
            Pertama, pertanian masih menjadi faktor utama yang berkontribusi untuk pertumbuhan ekonomi di negara agraris.Hal ini ditunjukkan dengan besarnya pengaruh sektor pertanian pada Pendapatan Domestik Bruto (PDB).Bank Dunia memperkirakan bahwa pertanian memberi kontribusi sebesar 32% pada pertumbuhan PDB secara rata-rata pada negara-negara agraris, dimana sekitar 417 juta penduduk tinggal.Lebih dari dua per tiga penduduk tinggal di desa, seperti misalnya penduduk sub-gurun Sahara, Afrika, Laos, dan Senegal.
            Kedua, kebanyakan penduduk pedesaan di dunia — sekitar 2,2 milyar — tinggal di negara yang tengah bertransformasi, dengan indikator persentase penduduk miskin di pedesaan sangat tinggi (sekitar 80%) namun sektor pertanian hanya memberi peran kecil pada pertumbuhan PDB (sekitar 7%). Hal ini terjadi pada negara-negara di Asia Tenggara, Afrika Utara, dan Timur Tengah, serta Guatemala.  Ketiga, negara perkotaan, dimana migrasi desa-kota telah mencapai titik dimana penduduk yang miskin dapat ditemui di kota, dan sektor pertanian menyumbang kontribusi yang lebih kecil terhadap pertumbuhan output. Hal ini terjadi di negara Amerika Latin dan Karibia, serta di Eropa Timur dan Asia Tengah dengan jumlah penduduk pedesaan sekitar 225 juta jiwa.
            Di samping itu, perbedaan wilayah di dalam suatu negara juga memainkan peran yang tidak kalah penting.Seperti misalnya di India terdapat wilayah yang memiliki latar yang berbeda, misalnya Punjab yang modern dan Bihar yang masih semi-feodal. Ataupun di Indonesia, misalnya wilayah Jawa yang sangat modern dengan pertanian yang kuat dan Kalimantan yang masih belum begitu maju.

·         Pertanian ala petani di Amerika Latin, Asia, dan Afrika
            Di kebanyakan negara berkembang, faktor sejarah memainkan peran penting pada kepemilikan lahan untuk petani kecil maupun besar.Hal ini berlaku di Amerika Latin dan beberapa negara di Asia.Di wilayah tersebut terdapat ketimpangan kepemilikan lahan yang sangat jelas terlihat. Di Afrika, faktor sejarah dan ketersediaan tanah yang belum terpakai menghasikan pola dan struktur pertanian yang berbeda. Walaupun petani harus berjuang untuk mempertahankan hidupnya serta tingkah laku petani yang jatuh miskin di Asia dan Amerika Latin, sistem agraria di negara tersebut tetap berbeda satu sama lain.
·         Pola Pertanian di Amerika Latin: Kemajuan dan Tantangan terhadap Kemiskinan
Di Amerika Latin, seperti di Asia dan Afrika, struktur agraria tidak hanya bagian dari sistem produksi tetapi juga dasar dari ekonomi, sosial, dan organisasi politik di kehidupan pedesaan secara keseluruhan. Struktur agraria telah ada di Amerika Latin sejak masa kolonial dan masih berkembang pada beberapa wilayah dengan adanya sistem dualisme pertanian yang disebut dengan latifundiominifundio.Latifundios adalah kepemilikan lahan pertanian dengan area yang besar, dan dapat menyediakan lapangan kerja untuk lebih dari 12 orang, walaupun beberapa unit usaha dapat menampung karyawan sampai ribuan tenaga kerja.Minifundios adalah unit usaha pertanian terkecil yang hanya dapat menampung satu keluarga (2 orang pekerja), dengan pola pendapatan, akses pasar, dan tingkat teknologi serta jumlah modal tertentu yang berbeda menurut masing-masing negara atau wilayah.
Wilayah dengan kondisi lahan pertanian yang buruk, dengan jumlah kaum minoritas yang tinggi, cenderung memiliki tingkat kemiskinan yang tinggi.Kesenjangan ekstrim di wilayah pedesaan ini juga terjadi.Hal ini disebabkan oleh sulitnya akses kredit bagi kaum miskin dan kekuasaan kaum elit yang sangat kuat sehingga fasilitas negara dapat dikuasai hanya untuk mereka saja. Terlebih, urbanisasi kaum terdidik masih tinggi, sehingga penduduk di desa yang masih ada hanyalah mereka yang berusia tua, berkelamin wanita, dan  kaum pribumi saja. Faktor-faktor inilah yang masih menjadi masalah di negara berpendapatan menengah di Amerika Latin dan membutuhkan penanganan dari masyarakat dan pemerintah setempat.
·         Fragmentasi dan Subdivisi Lahan Petani di Asia
Masalah pokok bidang pertanian di Asia adalah banyaknya orang yang bekerja pada lahan yang sangat sempit.Selama abad 20 berjalan, kondisi pedesaan di kawasan Asia semakin memburuk. Prof. Gunnar Myrdal mengidentifikasikan tiga elemen yang saling berkaitan dan membentuk pola kepemilikan lahan tradisional, yang dibagi menjadi :
1.      Penindasan yang dilakukan bangsa Eropa.
2. Pengenalan transaksi ekonomi yang serba menggunakan uang secara besar-besaran serta meningkatnya kekuatan pemilik uang yang bertindak sebagai rentenir.
3. Laju pertumbuhan penduduk Asia yang sangat cepat.
·         Pertanian Subsisten dan Perluasan Perladangan di Afrika
Seperti halnya di Asia dan Amerika Latin pola pertanian subsistem pada sebidang lahan yang sempit merupakan cara hidup sehari-hari dari sebagian besar keluarga petani di Afrika. Akan tetapi, struktur dan organisasi sistem perekonomian sangatlah berbeda.Sebagian besar petani di daerah tropis Afrika masih mengarahkan hasil pertaniannya untuk kehidupan subsisten, kecuali di daerah perkebunan bekas jajahan. Karena input variabel yang utama dalam pertanian Afrika adalah keluarga dan tenaga kerja pedesaan, maka sistem pertanian di Afrika didominasi oleh tiga karakteristik utama :
1. Masih sangat pentingnya pola pertanian subsisten bagi masyarakat pedesaan.
2. Eksistensi atau ketersediaan sebidang lahan yang luasnya melebihi dari cukup untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar yang masih memungkinkan berlangsungnya pola pertanian berpindah serta membuat tanah bukan merupakan suatu instrumen kekuatan ekonomi dan politik bagi pemiliknya.
3. Adanya hak bagi setiap keluarga guna memanfaatkan lahan dan air di dalam dan sekitar wialyah kampung halamannya, dan sama sekali tidak boleh dijamah oleh keluarga-keluarga lain meskipun mereka berasal dari satu suku.

Pertanian subsisten merupakan budaya tradisional Afrika danmemiliki produktivitas yang rendah, hal ini merupakan hasil dari kombinasi faktor sejarah yang mencegah pertumbuhan output:
1. Walaupun ada banyak lahan potensial yang belum terjamah, hanya wilayah yang kecil dan tertentu saja yang dapat dikelola oeh keluarga petani dengan hanya memakai alat-alat tradisional. Penggunaan hewan sebagai alat bantu pertanian juga tidak memungkinkan karena gangguan dari faktor alam,seperti cuaca kering dan penyakit menular, maupun faktor manusia yang belum dapat mengelola hewan tersebut.
2. Dengan area kelola pertanian yang kecil dan memakai alat tradisional, area ini cenderung diolah secara intensif. Akibatnya, terjadi diminishing return terhadap bertambahnya tenaga kerja. Kesuburan tanah juga akan habis seiring dengan penggunaan lahan tersebut. Disini, petani di Afrika hanya memakai kotoran hewan untuk mengembalikan kesuburan tanah mereka untuk kemudian lahan tersebut ditanami kembali.
3. Tenaga kerja adalah input yang langka pada saat musim sibuk masa tanam, dan panen. Di saat bersamaan, kebanyakan tenaga kerja ini tidak memiliki skill memadai. Karena di Afrika hujan jarang terjadi, permintaan akan tenaga kerja pada saat musim hujan akan tumbuh sangat tinggi melebihi semua penawaran tenaga kerja yang tersedia.
             IV.            Peran Penting Kaum Wanita
Masalah utama yang terjadi pada saat ini, terutama di Asia dan Afrika, adalah peran wanita dalam sektor pertanian. Dalam beberapa kasus, kaum wanita melakukan sekitar 70 persen tugas pertanian, dan dalam satu kasus bahkan hampir mencapai 80 persen dari keseluruhan pekerjaan. Pada umumnya, yang dikerjakan adalah pekerjaan-pekerjaan kasar dengan menggunakan peralatan yang serba sederhana atau bahkan pimitif dan memerlukan banyak waktu, sekedar untuk mencukupi keperluan subsisten keluarganya, seperti misalnya mencabuti rumput liar, menanam bibit, dan memanen hasil panen untuk dikonsumsi secepatnya.Sementara kaum pria atau para suami mencoba mencari pekerjaan sambilan di perkebunan atau di kota-kota.Selama ini kaum wanita telah memberikan kontribusi yang besar dan penting dalam ekonomi pertanian, khususnya dalam sektor tanaman pangan yang cepat menghasilkan uang.
Di berbagai kawasan di negara-negara berkembang jerih payah kaum wanita selama berjam-jam setiap harinya dalam menghasilkan produk tanaman komersial tetap saja tidak mendapatkan imbalan atau upah.Sementara sumber penghasilan dari produksi pertanian komersial meningkat, kontrol kaum wanita terhadap sumber-sumber ekonomi itu justru menurun.Hal ini dikarenakan sebagian besar sumber daya rumah tangga, seperti tanah dan input-input lainnya dialihkan dari budidaya tanaman pekarangan ke produksi pertanian komersial itu.
Program-program pengembangan yang dijalankan pemerintahan negara-negara berkembang selama ini hanya terfokus pada kaum pria saja, sehingga ketimpangan akses ke berbagai sumber daya ekonomi antara kaum pria dan wanita semakin lama semakin besar.Karena itu, kontribusi wanita bagi pendapatan keluarga dengan sendirinya merosot.
Program-program yang disponsori pemerintah belum memberikan perhatian yang memadai kepada kaum wanita. Di banyak negara berkembang, seorang wanita hanya dapat melakukan suatu kontrak atau transaksi ekonomi jika disertai oleh tanda tangan sang suami. Sedikit sekali kaum wanita yang terlibat dalam program-program pelatihan dan pendidikan yang diselenggarakan oleh pemerintah.Berbagai macam kendala kultural dan sosial masih menghalangi integrasi kaum wanita ke dalam program-program pengembangan pertanian di banyak negara-negara berkembang.Secara umum, keterlibatan kaum wanita dalam berbagai macam proyek pembangunan dan program-program peningkatan kesejahteraan masih sangat terbatas; jadi tidak mengherankan jika proyek atau program itu sendiri banyak yang gagal mencapai sasarannya.Yang tidak kalah pentingnya bahwa segala macam usaha kaum wanita masih dianggap tidak perlu diberi imbalan atau upah, padahal tetes keringat kaum pria mendapat imbalan.
Pentingnya peranan dan fungsi ekonomi kaum wanita tersebut dibuktikan oleh keberhasilan yang sangat mengesankan dari program-program pembangunan yang melibatkan partisipasi mereka secara penuh. Sehubungan dengan begitu pentingnya peranan kaum wanita dalam peningkatan kemakmuran masyarakat pertanian, maka setiap program atau proyek pembangunan haruslah melibatkan mereka agar kaum wanita juga memperoleh manfaat dan kesempatan yang sama besarnya dengan yang diterima oleh kaum pria.

V. Mikroekonomi Perilaku Petani dan Pembangunan Agrikultur
·         Transisi Penghidupan Sendiri Petani menjadi Petani Komersial Terspesialisasi
Terdapat tiga tahapan umum dalam evolusi produksi agrikultur.Tahap pertama merupakan murni, produktifitas-rendah, kebanyakan petani yang menghidupi dirinya sendiri (subsistence), hal ini masih lazim dilakukan di Afrika.Tahap kedua disebut beragam atau agrikultur keluarga campuran (mixed family agriculture) dimana sebagian kecil hasil produksi digunakan sebagai konsumsi sendiri dan sebagian lagi dijual untuk kepada sektor komersil.Tahap ketiga merepresentasikan petani modern, yang secara eksklusif terlibat dalam produktifitas-tinggi spesialisasi agrikultur dalam pasar komersial.

·         Pertanian Subsisten: Keengganan Risiko, Ketidapastian, dan Kelangsungan Hidup
Pada pertanian subsisten klasik, kebanyakan output diproduksi untuk keperluan konsumsi keluarga.Output dan produktifitas yang dihasilkan rendah, serta menggunakan alat pertanian sederhana.Modal yang digunakan untuk investasi minimal; tanah dan tenaga kerja merupakan faktor pokok produksi.Tenaga kerja setengah menganggur hampir sebagian besar tahun dan hanya bekerja ketika musim panen.
Teori tradisional dua faktor neoklasik memberikan beberapa pengertian yang mendalam terhadap ekonomi subsisten agrikultur, dimana tanah berjumlah tetap, tenaga kerja merupakan satu-satunya variabel input, dan memaksimalkan keuntungan. Namun sayang teori ini tidak menjelaskan mengapa petani kecil sering kali menentang inovasi teknologi yang dapat membantu dalam pertanian maupun perkenalan bibit-bibit baru. Menurut teori, pada umumnya orang akan cenderung menggunakan metode produksi yang meningkatkan output dengan cost yang diberikan atau meminimumkan cost dengan output tingkat tertentu, namun teori ini berdasarkan asumsi dimana petani memiliki “pemahaman sempurna”. Oleh karena itu teori ini gagal diterapkan kepada lingkungan agrikultur subsisten. Terlebih lagi jika akses untuk mendapatkan informasi tidak sempurna, biaya yang harus dibayarkan untuk mendapatkan informasi akan semakin mahal.
Agrikultur subsisten kemudian dapat dikatakan usaha yang memiliki risiko tinggi dan ketidakpastian. Di daerah dimana pertanian sangat kecil dan panen sangat bergantung kepada curah hujan, rata-rata output akan rendah, dan pada tahung yang buruk, para petani akan terancam bahaya kelaparan. Pada keadaan tersebut, petani akan lebih memikirkan kelangsungan hidupnya dibandingkan keuntungan yang didapatkan. Dengan demikian petani akan enggan untuk meninggalkan teknologi tradisional yang mereka gunakan dan mengganti dengan yang baru karena walaupun keuntungan yang didapatkan mungkin akan tinggi, tetapi risiko yang dipertatuhkan akan lebih tinggi pula.
·         Ekonomi Bagi Hasil dan Faktor Pasar yang Saling Terkait
Bagi hasil terjadi ketika petani menggunakan tanah milik orang lain (landowner) sebagai ganti dari sebagian hasil output  makanan. Bagian pemilik tanah dapat bervariasi tergantung ketersediaan tenaga kerja lokal dan input lainnya. Alfred Marshall mengobservasi bahwa sistem bagi hasil akan menimbulkan inefisiensi karena ketika petani hanya dibayarkan sebagian dari hasil marjinalnya, secara rasional usaha yang dilakukan akan semakin menurun. Pandangan ini kemudian ditantang oleh Steven Cheung dengan teorinya yang disebut monitoring approach dimana menurut Steven Cheung, pemilik tanah yang profit-maximizing akan mengeluarkan kontrak yang mengharuskan usaha yang memadai serta penetapan pembagian output. Jika pekerjaan pemilik tanah tidak sebanding dengan hasil yang didapatkan, maka ia akan digantikan dengan pemilik lain yang mau bekerja keras.
Screening hypothesis merupakan pandangan dimana orang dengan kemampuan lebih tinggi akan cenderung lebih memilih perjanjian sewa murni, karena dengan demikian petani yang memiliki kemampuan tinggi (high-ability farmer) akan mendapat nilai penuh dari produk marjinalnya.
Namun Radwan Ali Shaban mengidentifikasikan petani yang memanen dari lahannya sendiri dengan petani yang menggunakan sistem kontrak bagi hasil. Dia menemukan bahwa petani dengan kontrak bagi hasil akan menggunakan sedikit input dan akan menghasilkan output lebih sedikit dibandingkan dengan yang menggunakan lahan sendiri.
Pendekatan terakhir menyarankan bahwa bagi hasil secara relatif efektif. Jika pemilik tanah (landlord) membayar penyewa tanah (tenant) secara adil, dan akan efisien apabila  penyewa tanah memberikan usaha terbaiknya.
Faktor pasar yang saling terkait merupakan keadaan dimana fungsi penawaran saling bergantung, biasanya disebabkan karena berbagai input yang berbeda disediakan oleh supplier yang sama.
·         Transisi kearah Pertanian Campuran (Diversified Farming)
Pertanian campuran menggambarkan secara logis tahap transisi dari pertanian subsisten kearah pertanian dengan spesialisasi produksi karena pada petani kecil, ketergantungan eksklusif terhadap suatu tanaman tertentu dapat lebih berbahaya dibandingkan subsisten murni, karena resiko fluktuasi harga juga dimasukkan kedalam ketidakpastian alam.Pada tahap ini, hasil panen pokok tidak lagi mendominasi output pertanian.
Sukses atau tidaknya usaha tersebut, tidak hanya bergantung dari kemampuan serta ketrampilan petani dalam meningkatkan produktifitasnya namun juga diukur dari sosial, komersial, dan kondisi institusional.
·         Dari Keberagaman kepada Spesialisasi: Pertanian Komersial Modern
Pertanian terspesialisasi merupakan tahap terakhir dan tahap termaju dalam kepemilikan individual pada ekonomi campuran pasar. Dalam pertanian  terspesialisasi, ketersediaan pangan untuk keluarga serta surplus pasar bukanlah lagi tujuan utama, melainkan keuntungan ekonomi murni. Singkatnya, seluruh produksi untuk pasar.
VI. Kebutuhan Pokok Strategi Agrikultural dan Pembangunan Desa
·         Memperbaiki Agrikultur Berskala Kecil
o   Dalam kebanyakan negara berkembang, teknologi dan inovasi merupakan prasyarat untuk perbaikan yang berkelanjutan dalam tingkat output dan produktifitas.
o   Kebijakan institusional dan penetepan harga agar tercipta insentif ekonomi
o   Beradaptasi dengan kesempatan dan hambatan baru

·         Kondisi Pembangunan Desa
Terdapat tiga kesimpulan mengenai realisasi orang-berorientasi strategi pembangunan pertanian dan pedesaan, yaitu:
o   Pembaruan tanah
o   Kebijakan yang mendukung
o   Objektifitas pembangunan yang terintegrasi


0 komentar:

Posting Komentar