Minggu, 10 November 2013


Pendidikan, Pembangunan SDM, dan Peran Pendidikan dalam Pembangunan
 Oleh: Kelompok 7

Arti Penting Pendidikan
Pendidikan adalah tujuan pembangunan yang mendasar. Pendidikan dapat meningkatkan tingkat kapabilitas seseorang yang dengan kapabilitas itu dia bisa bebas memilih fungsinya di masyarakat. Pendidikan memiliki peran yang penting untuk meningkatkan kemampuan negara berkembang dalam menyerap teknologi modern dan mengembangkan kapasitas bagi terwujudnya pertumbuhan dan pembagunan berkelanjutan. Oleh karena itu, pendidikan dapat dipahami sebagai input dan output dalam pembangunan. Pendidikan menjadi tujuan dari pembangunan dan juga sebagai faktor pemicu pembangunan.
Pendidikan adalah modal manusia yang vital dalam mengembangkan tingkat pengetahuan, keterampilan, dan gagasan. Dengan modal itu, manusia dapat meningkatkan kesejahteraannya.

A. Pendidikan dan Kesehatan Sebagai Investasi Gabungan dalam Pembangunan
Perlu diketahui bahwa pendidikan yang berhasil juga bergantung pada kesehatan yang memadai. Seseorang bisa dididik dengan baik, jika sehat jasmani dan rohani.  Jika seseorang sehat, usia harapan hidup juga akan tinggi dan itu meningkatkan tingkat produktifitas.
Pendidikan juga mempengaruhi bidang kesehatan karena banyak program-program kesehatan yang membutuhkan keterampilan, pengetahuan, dan gagasan yang itu hanya bisa didapat dari pendidikan.

B. Peningkatan Pendapatan Saja Tidak Cukup, Harus Diikuti Peningkatan Pendidikan
Tingkat Pendidikan di negara maju jauh lebih tinggi di negara berkembang atau miskin. Hal ini dapat dimaklumi, kerena dengan pendapatan yang tinggi maka orang akan lebih memberikan perhatian pada pendidikan.  Dengan pendidikan yang lebih baik maka pendapatan yang lebih tinggi akan mudah dicapai.
Orang umumnya mengeluarkan dana yang lebih untuk pendidikan disaat pendapatannya tinggi. Namun, bukti menunjukkan bahwa meski pendapatan naik belum tentu dibarengi dengan peningkatan pendidikan yang lebih baik. Kita tidak bisa berharap bahwa pendapatan yang meningkat akan diinvestasikan secukupnya ke dalam pendidikan. Misalnya ada orang yang kaya karena usahanya dalam bertani. Orang yang kaya tersebut akan mendidik anaknya sama seperti dirinya yaitu bertani. Bertani merupakan kegiatan yang tidak terlalu memperhatikan tingkat pendidikan. Jadi, orang kaya itu tidak akan meningkatkan status pendidikan anak mereka, karena anaknya hanya akan dijadikan sebagai petani. Menurut penelitian, yang paling bisa meningkatkan tingkat pendidikan adalah adanya sosialisasi tentang pentingnya pendidikan itu sendiri. Ini akan berpengaruh positif terhadap peningkatan pendidikan terutama di negara berkembang.
Jika orang tua sudah mengerti tentang pentingnya pendidikan, maka anak-anak akan rajin sekolah. Sekolah membuat tingkat buta huruf berkurang dan keterampilan juga akan meningkat. Ika sudah begitu tambahan kesejahteraan juga akan meningkat dengan sendirinya.
Orang yang terdidik akan memberikan manfaat bagi sekitarnya, misalnya dengan memberikan informasi terbaru dan membuat inovasi yang bermanfaat.

Investasi dalam Pendidikan dan Kesehatan: Pendekatan Human Capital
Analisis dari investasi dalam pendidikan dan kesehatan dapat disatukan dalam pendekatan human capital. Human capital adalah istilah ekonom yang sering digunakan untuk pendidikan, kesehatan, dan kapasitas manusia yang dapat meningkatakan produktivitas. Pendidikan dan kesehatan berkontribusi secara langsung dalam meningkatkan kesejahteraan. Tapi dasar dari pendekatan human capital berfokus pada kemampuan tidak langsung mereka untuk meningkatkan kesejahteraan dengan meningkatkan pendapatan.
Efek dari human capital investment dalam negara berkembang cukup besar. Sebuah data menunjukkan bahwa orang yang berpendidikan tinggi mulai bekerja penuh pada saat usia mereka sudah lanjut, tetapi pendapatan mereka jauh lebih tinggi daripada orang yang sudah bekerja sebelumnya. Tapi keuntungan pendapatan di masa depan harus memperhitungkan biaya total pendidikan yang mencakup biaya kuliah atau pengeluaran berkaitan dengan pendidikan, seperti buku dan seragam, dan biaya tidak langsung terutama pendapatan pendapatan mereka yang hilang akibat bersekolah.
Perhatikan bahwa di Afrika sub-Sahara dan Asia, rate of return ke pendidikan dasar adalah sekitar 40%! Meskipun demikian pengembalian yang luar biasa, banyak keluarga tidak membuat investasi ini karena mereka tidak memiliki kemampuan untuk meminjam bahkan sedikit jumlah uang yang seorang anak yang dapat upah karena bekerja yang dapat dibawa ke dalam keluarga. Perhatikan bahwa tingkat pengembalian yang lebih tinggi untuk negara-negara berkembang mencerminkan bahwa diferensial pendapatan antara mereka dengan yang lebih atau kurang dalam hal pendidikan lebih besar daripada rata-rata untuk negara-negara berkembang.
Hal ini ditemukan, termasuk jumlah subsidi publik untuk pendidikan individu sebagai bagian dari biaya langsung, karena ini adalah bagian dari investasi dari segi sosial (dan dengan mempertimbangkan sebelum pajak daripada pendapatan setelah pajak). Perlu dicatat bahwa investasi sosial mungkin bersahaja karena mereka tidak memperhitungkan eksternalitas bahwa orang-orang berpendidikan memberi manfaat pada orang lain (misalnya, mampu membaca untuk anggota keluarga yang lain), belum lagi manfaat individu dan sosial lainnya seperti peningkatan otonomi dan partisipasi masyarakat, yang tercermin dalam kutipan pembukan bab ini dari Amartya Sen.
Anak sebagai Pekerja
                Pekerja anak merupakan masalah yang tersebar luas di negara berkembang. International Labor Office (ILO) atau organisasi buruh internasional, sebuah badan PBB yang memainkan peran penting dalam berbagai isu pekerja anak, dalam laporan empat tahunannya tentang pekerja anak yang dipublikasikan pada tahun 2010 mengemukakan bahwa pada tahun 2008 terdapat 306 juta anak-anak yang berusia mulai 5-17 tahun yang melakukan jenis pekerjaan tertentu, hanya sekitar sepertiga dari jumlah itu yang diperbolehkan bekerja berdasarkan hukum nasional di negara masing-masing dan konvensi ILO yang berlaku. Meski demikian, 215 juta anak digolongkan sebagai “pekerja anak” karena mereka masih di bawah batas usia minimum untuk boleh bekerja; atau berada di atas batas usia itu (sampai usia 17 tahun) tetapi melakukan pekerjaaan yang bisa mengancam kesehatan, keselamatan, atau moral mereka; atau berada dalam kondisi kerja paksa.
            Namun, tidak jelas apakah dengan segera melarang semua bentuk pekerja anak merupakan kepentingan terbaik bagi anak-anak itu sendiri. Tanpa pekerjaan, seorang anak mungkin akan mengalami malnutrisi yang parah; dengan bekerja maka biaya sekolah, nutrisi pokok, dan perawatan kesehatan mungkin akan tersedia. Namun ada sejumlah kondisi yang membuat pelarangan pekerja akan menguntungkan bagi pekerja anak itu sendiri dan keluarganya secara keseluruhan, yaitu ekuilibrium jamak. Kaushik Basu telah menyediakan analisis mengenai hal ini, dan kita terlebih dahulu akan mempertimbangkan modelnya yang sederhana dimana ditunjukkan bagaimana masalah ini timbul.
            Dalam model pekerja anak, kita membuat dua asumsi penting. Pertama, bahwa rumah tangga yang berpendapatan cukup tinggi tidak akan menyuruh anaknya bekerja. Seperti yang bisa kita harapkan, ada bukti kuat bahwa hal ini  benar atau setidaknya hampir selalu benar. Kedua, bahwa pekerja anak dan pekerja dewasa saling mensubstitusi. Bahkan, anak-anak tidak seproduktif orang dewasa, dan orang dewasa dapat melakukan pekerjaan apapun yang dapat dilakukan anak-anak.

 
 

            Model pekerja anak disajikan secara grafis di atas. Pada sumbu x, kita memiliki penawaran tenaga kerja yang setara dengan orang dewasa. Karena kita ingin memahami dampak permintaan untuk tenaga kerja, cara paling baik adalah dengan mempertimbangkan unit-unit tenaga kerja yang homogen dalam sebuah grafik. Jadi jika produktivitas seorang pekerja anak adalah sejumlah g kali pekerja dewasa maka kita mempertimbangkan seorang anak sebagai padanan dari produktivitas g pekerja dewasa. Sesuai dengan asumsi kita, g < 1. Sebagai contoh, jika produktivitas seorang pekerja anak adalah setengah produktivitas seorang pekerja dewasa, maka g = 0,5.
            Selama upah masih berada di atas wH maka kurva penawaran akan berada di sepanjang AA’, jika upah di bawah wH maka kurva penawaran akan berada di sepanjang TT’, dan jika berada di antara kedua titik upah itu maka kurva penawaran akan berada di sepanjang kurva berbentuk S yang berada di antara kedua garis vertikal tersebut.
            Andaikan pelarangan pekerja anak bisa segera diterapkan di seluruh dunia makan pelarangan itu kemungkinan akan kontraproduktif. Di satu sisi membuat anak-anak bisa menikmati pendidikan, di sisi lain penghasilan keluarga berkurang.
            Terdapat empat pendekatan utama dalam kebijakan pekerja anak yang sekarang diterapkan dalam perumumsan kebijakan pembangunan, yaitu:
Pendekatan pertama menyadari bahwa pekerja anak merupakan cerminan kemiskinan sehingga merekomendasikan fokus pada upaya penanggulangan kemiskinan dibanding langsung menangani masalah pekerja anak.
Pendekatan kedua mengedepankan strategi yang dapat menarik anak-anak ke sekolah yang mencakup perluasan pengadaan unit sekolah baru, contohnya pembangunan unit sekolah baru di desa, dan bantuan tunai bersyarat untuk mendorong para orang tua menyekolahkan anak mereka.
Pendekatan ketiga memandang bahwa pekerja anak tidak dapat dihindari , setidaknya dalam jangka pendek, dan mengedepankan pada cara-cara yang dapat meringankannya-seperti melalui pengaturan yang dapat mencegah penganiayaan dan penyediaan layanan pendukung bagi anak-anak yang berkerja.
Pendekatan keempat, yang paling sering diasosiakan dengan ILO, mendukung pelarangan pekerja anak.
The gender Gap: Diskriminasi dalam Pendidikan
Tingkat pendidikan yang diterima bagi remaja perempuan dipastikan lebih rendah dibanding remaja laki-laki pada negara berkembang padahal apabila dilihat secara keseluruhan tingkat buta huruf remaja sudah mulai menurun di dunia.  The educational gender gap adalah perbedaan dari akses dan pemenuhan pendidikan yang diterima oleh perempuan dan laki-laki. Perbedaan ini biasanya terjadi pada negara berkembang tingkat rendah seperti Afrika dan Asia selatan, dimana tingkat kemampuan membaca perempuan kurang dari setengah tingkat kemampuan membaca pada laki-laki. Padahal telah dibahas sebelumnya, salah satu tujuan dari Millenium Development Goals (MDG’s), yaitu mempromosikan kesetaraan gender dan memberi wewenang pada perempuan. Tujuan-tujuan ini direncanakan dimulai sejak tahun 2005 dan diharapkan dapat terpenuhi pada tahun 2015 nanti. Perempuan di negara dengan tingkat pendapatan menengah ke atas sudah mulai sadar akan pentingnya pendidikan ini dilihat dari jumlah mahasiswi di universitas.
Studi empiris menunjukkan bahwa diskriminasi pendidikan pada wanita dapat menghalangi pembangunan ekonomi suatu negara dan menimbulkan kesenjangan sosial. Berikut adalah tiga alasan untuk menghentikan perbedaan pencapaian pendidikan pada perempuan dan laki-laki:
a.       Dampak baik yang akan diterima di masa mendatang pada pendidikan yang diperoleh perempuan akan lebih tinggi dibanding pada laki-laki
b.      Meningkatkan pendidikan pada perempuan tidak hanya mampu meningkatkan produktivitas tetapi juga meningkatkan partisipasi tenaga kerja, mencegah pernikahan usia dini, mengurangi tingkat kelahiran, dan memperbaiki gizi dan nutrisi anak untuk generasi masa depan yang lebih baik
c.       Karena perempuan menanggung beban dari kemiskinan yang tidak sepadan, maka perubahan berupa peningkatan pendidikan bagi perempuan  mampu meningkatkan peran dan berdampak penting dalam mengurangi kemiskinan
Pendidikan yang tinggi pada perempuan akan berdampak atau memiliki imbal balik yang lebih tinggi dibanding investasi apapun.(contoh: pembangunan infrastruktur umum) dari sinilah kita tahu bahwa diskriminasi pendidikan pada wanita sangat tidak adil dan menghambat pencapaian tujuan pembangunan negara. Seorang ibu di daerah pedesaan yang dapat memperoleh pendidikan layak  secara umum mampu memperbaiki pendidikan dan kesehatan anak-anaknya, mampu mengurangi tingkat anak yang cacat, dan mengurangi tingkat anak dengan gizi buruk.
Sistem Pendidikan dan Pembangunan
Banyak literatur yang menyebutkan bahwa secara umum kajian mengenai pendidikan pembangunan ekonomi meliputi setidaknya 2 hal pokok, yaitu: 1. Interaksi antara permintaan pendidikan yang didukung kemampuan ekonomi dan penawaran pendidikan yang secara politik untuk merespon permintaan yang ada 2. Pemisahan yang penting antara keuntungan privat dan sosial dari tiap jenjang pendidikan dan kaitannya dengan strategi investasi di bidang pendidikan.
Ekonomi Politik Penawaran dan Permintaan Pendidikan: Hubungan antara Kesempatan Kerja dan Permintaan Pendidikan
Pada dasarnya, permintaan akan pendidikan didasari oleh ekspektasi masyarakat akan private benefits, yakni keuntungan yang didapatkan secara pribadi oleh pelajar dan keluarganya dari pendidikan yang ditempuh, contohnya adalah peluang mendapatkan pendapatan yang lebih besar di masa depan. Variabel yang mempengaruhi tingkat permintaan pendidikan di antaranya adalah private benefits tadi dan biaya yang harus dikeluarkan untuk dapat menikmati pendidikan.
Besarnya permintaan akan pendidikan dipengaruhi oleh besarnya harapan keluarga untuk membuka peluang bagi anak-anak mereka untuk dapat diserap oleh sektor modern, karena perbedaan pendapatan di sector modern dengan di sektor agraris cukup signifikan. Ada beberapa contoh kondisi di negara berkembang yang dapat memengaruhi permintaan pendidikan:
1.                   Perbedaan pendapatan sector modern dan sector agrarian
2.                   Tingkat pertambahan pekerjaan di sector modern
3.                   Kecenderungan industry menyerap tenaga kerja berdasarkan tingkat pendidikan
4.                   Kekuatan politik pemerintah yang diaplikasikan terhadapa pendidikan
5.                   Biaya pendidikan

Biaya dan Keuntungan Sosial versus Biaya dan Keuntungan Privat

Biaya dan keuntungan privat adalah pengorbanan dan keuntungan yang ditanggung oleh pelajar dan keluarganya (rumah tangga individual) sedangkan biaya dan keuntungan sosial adalah pengorbanan dan keuntungan yang dirasakan oleh masyarakat secara keseluruhan. Pendidikan, dalam hal ini, juga dapat menimbulan iaya dan keuntungan sosial, misalnya biaya peluang yang ditimbulkan dari dana yang digunkan pemerintah untuk pendidikan sebenarnya berpeluang untuk digunakan di sektor lain yang lebih membutuhkan. Sementara keuntungan sosial dari pendidikan misalnya adalah kemajuan ekonomi dan lain sebagainya.
Berdasarakan pendekatan ilmu ekonomi, pendidikan adalah juga sebuah komoditas yang harus diperhitungkan penyediaan efisiennya.Misalkan, pada suatu negara, biala setelah diperhitungkan didapatkan hasil bahwa pengadaan pendidikan wajib 9 tahun adalah yang paling efektif, maka itulah yang seharusnya diterapkan. Pertimbangan ini berdasarkan kepada perhitungan marginal cost dan marginal benefit.

Distribusi Pendidikan

Faktanya, masih banyak negara yang sudah mampu menyediakan pendidikan hingga tingkat tinggi namun belum dapat memberlakukan pemerataan pendidikan bagi warga negaranya. Artinya,banyak warga negara yang menempuh Sarjana strata 3 dan di sisi lain masih banyak yang tidak bersekolah sama sekali. Hal ini terkait dengan alokasi subsidi yang tepat sasaran oleh pemerintah.
Ada pernyataan lain bahwa pada beberapa sirkumstansi, pendidikan malah menambah tingkat kesenjangan dan bukannya mengurangi, terutama terjadi di negara berkembang. Logikanya sederhana, biasanya yang mampu mengakses pendidikan lanjut dan berkualitas adalah pelajar yang berasal dari golongan menengah ke atas, sementara  golongan menengah ke bawah hanya mampu mengakses pendidikan menengah saja, itupun yang kualitasnya lebih rendah. Hal ini selanjutnya malah meningkatkan kesenjangan di masa depan, megingat selisih pendapatan alumni pendidikan dasar hingga menengah dengan alumni pendidikan tinggi berkisar antara 300% hingga 800%. Lebih lanjut lagi, upaya pengembangan pendidkan di suatu negara perlu juga memperhatikan kondisi riil masing-masing negara. Sebagai contoh, negara yang tingkat pendidikan rata-ratanya masih rendah seperti Mali mungkin harus menambah kuantitas sekolah, sementara negara-negara Asia Selatan yang pendidikannya notabene sudah memadai dari segi kuantitas namun masih rendah dari segi kualitas perlu meningkatkan kualitas pengajaran ketimbang meningkatkan kuantitas.


Daftar Pustaka:

Todaro, Michael P. and Syephen C. Smith. (2011). Economic Development (11th ed). England: Pearson

0 komentar:

Posting Komentar