Sabtu, 19 Januari 2013



11 Waralaba Asing Siap Masuk Indonesia
Jumat, 30 Maret 2012
JAKARTA, KOMPAS.  Stabilitas perekonomian dan membaiknya ekonomi masyarakat menjadikan Indonesia sebagai pasar menarik bagi bisnis waralaba. Karena itu, waralaba asing terus berdatangan. Untuk mengantisipasinya, pemerintah sedang menggodok aturan soal waralaba asing.
Sebelas waralaba asing yang dibawa oleh AS Louken, Kamis (29/3/2012), memaparkan potensi bisnisnya. Mereka adalah Bonia (Singapura), Li-ning (China), Berrylite Frozen Yogurt (Singapura), C House (Italia), Country Chicken (Australia), Gogo Franks (Singapura), Love & Co (Singapura), Mother En Vogue (Singapura), Pho Hoa (Amerika Serikat), Physio Asia Therapy Centre (Singapura), dan Skin Inc (Singapura). Beberapa bulan lalu, puluhan waralaba AS juga datang ke Indonesia dan menyatakan niatnya untuk mencari partner lokal dan berinvestasi.

Country Manager AS Louken Indonesia Danny Anthonius mengatakan, kehadiran 11 waralaba tersebut menjadi kesempatan baru bagi pebisnis lokal. ”Kami siap bekerja sama dengan merek-merek lokal. Kami ingin berkontribusi bagi Indonesia, baik membawa merek asing masuk maupun sebaliknya,” paparnya.
Dalam kesempatan tersebut, Ketua Komite Kamar Dagang dan Industri Indonesia Bidang Waralaba dan Lisensi Amir Karamoy mengatakan, saat ini pemerintah sedang menggodok aturan terkait dengan waralaba asing. ”Aturan tersebut diharapkan bisa mengakomodasi semua kepentingan terkait,” ujarnya.
Sebelumnya, Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi mengatakan, aturan baru terkait dengan waralaba asing dibuat untuk memastikan keberadaan mereka bermanfaat bagi Indonesia. ”Tanpa aturan tegas, mereka bisa menggusur ekonomi lokal,” katanya. Waralaba diatur dalam Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 31 Tahun 2008. Tahun 2012 diprediksi akan masuk 100 waralaba asing ke Indonesia. Sampai tahun 2011 tercatat ada 400 waralaba asing yang sudah beroperasi di Indonesia. Dari sekitar Rp 114 triliun omzet waralaba tahun 2011, sekitar 60 persen di antaranya berasal dari waralaba asing.
Menurut pakar perdagangan internasional dari Institut Pertanian Bogor, Rina Octaviani, di Bogor, Jawa Barat, masuknya industri waralaba ke Indonesia sangat menguntungkan konsumen. Dalam jangka pendek, pertumbuhan konsumsi yang tinggi bagus. Namun, kalau pertumbuhan konsumsi tidak dibarengi dengan peningkatan investasi, terutama untuk industri, justru itu akan mendorong inflasi. (ENY/MAS) Sumber :Kompas Cetak

Analisis:
            Menganalisis jumlah omzet dari waralaba tahun 2011, sekitar 60 persen berasal dari waralaba asing merupakan tamparan bagi bangsa Indonesia, bagaimana tidak pemerintah yang ingin menuntaskan pengangguran tapi memilih alternatife yang kurang tepat. Saya akui dengan munculnya waralaba tentu akan membuka peluang bagi masyarakat untuk bekerja, akan tetapi hal yang perlu digarisbawahi adalah membuka kran waralaba asing akan berdampak pada tergusurnya industri local yang saat ini baru berkembang. Industri yang ada di Indonesia pada saat ini umumnya industri yang belum mampu bersaing dengan industri asing yang notabanenya sudah jauh lebih efisien, karena industri asing sudah efisien maka hargapun menjadi acuan dalam pengambilan strategi bisnis.
            Melihat analisis yang dilakukan oleh pakar perdagangan internasional dari Institut Pertanian Bogor, Rina Octaviani, yang menyatakan bahwa masuknya industri waralaba ke Indonesia sangat menguntungkan konsumen. Ini perlu kita kaji lebih dalam, yang menjadi pertanyaan kita adalah menguntungkan konsumen dalam hal apa? Dari segi geografis sebagaian konsumen diuntungkan karena tidak perlu mengeluarkan biaya transportasi untuk memperoleh barang yang diinginkan dalam pemenuhan utilitasnya, tapi kita harus menyadari bahwa konsumen di Indonesia telah dibrainwash otaknya dalam melakukan pembelian (masyarakat dibuat menjadi tergantung akan produk-produk tertentu). Sehingga dengan tingkat harga berapapun masyarakat akan membeli barang itu, padahal kita tidak mengetahui berapa margin yang diambil oleh perusahaan yang menjual barang tersebut.
            Saya yakin berdatangannya waralaba asing di Indonesia merupakan indikasi bahwa pertumbuhan ekonomi baik, terbukti sampai tahun 2011 tercatat ada 400 waralaba asing yang sudah beroperasi di Indonesia. Di lain pihak, jumlah yang besar ini mendeskripsikan lemahnya industri yang ada di dalam negeri, kita belum mampu menciptakan industri yang bisa bersaing dengan industri asing. Hal ini juga dimanfaatkan oleh waralaba asing dalam memenuhi kebutuhan masyarakat Indonesia yang telah dikenal sebagai konsumen yang impulsive buyer, hal ini sulit untuk dihindari.
            Menurut saya solusi yang bisa dilakuakn oleh pemerintah adalah membangun iklim usaha yang kondusif bagi masyarakat Indonesia yang ingin bersaiang dengan industri asing, adanya keberpihakan pemerintah dengan tidak melupakan unsur-unsur etika dan persaingan usaha yang sehat dan pemerintah harus bersikap tegas, jika ada pelaku usaha yang kiranya merugikan konsumen Indonesia, jangan hanya terbuai dengan alasan peningkatan kesemapatan kerja, peningkatan jumlah pajak yang diterima oleh pemerintah. Tapi harus bisa mengrahkan kearah yang tidak merugikan bangsa ini (menjadi wasit, pemain dan pemenang di negeri sendiri).

0 komentar:

Posting Komentar